Artikel kimia B 2008 UPI's Blog

Meldalina Agustina Mare-Mare (0808738)-Pemanfaatan Berondolan dalam Kehidupan Sehari-Hari

Posted on: June 4, 2009

PEMANFAATAN BERONDOLAN

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Berondolan adalah buah kelapa sawit yang teah lepas dari tandannya. Biasanya berwarna merah tua. Sealain sebagai bahan dasar pembuatan minyak kelapa sawit, berondolan biasa digunakan sebagai bahan bantu untuk menyalakan kayu bakar. Kegunaan ini biasanya dimanfaatkan oleh para ibu rumah tangga.

Akhir-akhir ini, pemerintah sedang menggalakkan pengalihan bahan bakar minyak tanah (kerosin) ke gas (LPG). Namun penggalakkan ini kurang begitu terlaksana khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah.

Mengapa bagi masyarakat menengah ke bawah? Jawabannyasudah tidak asing lagi, yaitu mahalnya harga gas. Selain itu, sulit untuk mendapatkannya khususnya di daerah-daerah terpencil.

Seperti di Desa Sialang Baru, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Riau, sangat jarang masyarakat yang menggunakan kompor gas (LPG) untuk memasak, hanya berkisar 10%. Sekitar 30% menggunakan kompor dengan bahan bakar (kerosin), sisanya menggunakan tungku (dengan bahan bakar berondolan) namun tetap menggunaka kompor dengan bahan bakar kerosin.

Masyarakat memilih menggunakan kompor dengan bahan bakar kerosin dikarenakan lebih mudah untuk mendapatkannya. Selain itu juga, harga kompor yang menggunakan bahan bakar kerosin lebih murah dibandingkan harga kompor gas, (Lisma, seorang ibu rumah tangga sekaligus Pegawai Negeri Sipil).

Ada masyarakat yang menggunakan kompor dengan bahan bakar kerosin, namun terkadang juga menggunakan kayu bakar. Mereka menggunakan kayu bakar dan berondolan. Kayu bakar yang digunakan biasanya diambil dari hutan-hutan terdekat. Ada juga yang menggunakan pelepah sawit sebagai pengganti kayu dari hutan. Pelepah-pelepah tersebut digunakan setelah dikeringkan dengan cara menjemurnya di tempat yang terkena sinar matahari langsung. Namun, penggunaannya tidak dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar untuk memasak karena kayu tersebut tidak dapat menyala langsung jika hanya menggunakan korek api. Masyarakat sekitar menggunakan berondolan sebagai bahan pembantuuntuk menyalakan pelepah tersebut.

Apa yang dimaksud dengan berondolan? Bagaimana menggunakannya? Dari mana ditemukannya? Apa fungsinya?

Begitu mendengar kata berondolan, pertanyaan-pertanyaan seperti itu langsung muncul di benak kita bukan? Warga sekitar mengatakan    berondolan adalah sebagai buah sawit yang sudah terlalu tua, yang sudah tidak melekat lagi pada tandannya. Ciri-ciri berondolan ini adalah warnanya suah merah tua atau merah kehitaman. Namun berondolan ini pun tidak dapat langsung digunakan. Untuk menggunakannya, harus terlebih dahulu dijemur di bawah teri matahari. Wakyu penjemuran sangat sulit untuk diperkirakan dikarenakan perbedaan kondisi kondisinya saat lepas dari tandannya. Biasanya hanya dengan beberapa kali penjemuran, sudah dapat digunakan. Ciri-ciri berondolan yang sudah dapat digunakan dengan baik adalah warnanya sudah hitam kecokelatan. Saat ingin digunakan, terlebih dahulu ditumbuk bagian ujungnya hingga memar, kemudian dibakar dengan korek api. Setelah menyala barulah diletakkan ke dalam tungku, kemudian pelepah-pelepah atau kayu-kayu bakar disusun sedemikian di atasnya sehingga memungkinkan adanya pertukaran udara sehingga pembakaran dapat terjadi.

Secara ekonomis, penggunaan kayu bakar dan berondolan memang sangat menguntungkan karena mudah didapat dan harganya tidak mahal. Namun, ada kekurangan dalam penggunaan ini, yaitu dapur tempat kita memasak dapat menjadi hitam karena proses pembakaran yang tidak sempurna yang menghasilkan asap hitam. Selain itu juga, jika musim penghujan, kayu bakar akan basah dan berondolan tidak akan menyala, sehingga proses memasak pun akan terbengkalai. Oleh karena itu, biasanya para ibu rumah tangga tetap menyediakan kompor dengan bahan bakar kerosin di ruahnya.

Secara kimia, pembakaran yang tidak sempurna ini sangat tidak efektif. Selain menyebabkan dapur menjadi hitam, juga menimbulkan asap yang sangat berbahaya jika terlalu sering dihirup. Hal yang ditimbulkan adalah sesak napas, mata pedih, dan jika kita melakukan pengecekan daarah, maka darah kita akan sangat kental dan berwarna merah kehitaman (merah tua, bukan merah). Hal ini terjadi karena gas karbon monoksida sangat banyak. Selain itu, pembakaran yang tidak sempurna ini juga dapat menyebabkan kerusakan ozon.

Sampai saat ini, memasak dengan menggunakan tugku belum mendapat tanggapan yang serius dari kalangan pemerintah maupun para ilmuan. Sedangkan para ibu ruah tangga asyik dengan kemurahan dan kemudahan menggunakan tungku untuk memasak tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkan.

Referensi :

Autobiografi

Meldalina Agustina Mare-Mare, lahir di Sialang Baru, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, (Riau) pada tanggal 16 Agustus 1990. Ialah anak ke-2 dari 5 bersaudara. Sebelum melanjutkan pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, seorang siswi Sekolah Dasar Negeri 006 Sialang Baru dan berhasil menamatkan pendidikan Sekolah Dasarnya pada tahun 2002. Setelah lulus Sekolah Dasar melanjutkan Pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Lubuk Dalam dan berhasil menamatkannya pada tahun 2005, kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lubuk Dalam, KecamatanLubuk Dalam, Kabupaten Siak Sri Indrapura, dan berhasil menamatkan pendidikan pada tahun 2008.

Sebelum lulus SMA, mengikuti tes yang diadakan oleh Pemerintah Daerah setempat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan sebelum lulus dari SMA, sudah diterima sebagai mahasiswi di Universitas Pendidikan Indonesia dengan Program Study Pendidikan Kimia Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Blog Stats

  • 27,102 hits

halaman

Pages

June 2009
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: