Artikel kimia B 2008 UPI's Blog

Laila Fitriah (0800279)- Rarak : Pengganti Sabun Cuci Ramah Lingkungan

Posted on: June 4, 2009

Rarak : Pengganti Sabun Cuci Ramah Lingkungan

“Berjuta uang tidak akan berarti jika lingkungan ini rusak. Segala yang tersedia di alam akan tetap lestari jika di budi dayakan  kembali.”

Sabun maupun deterjen adalah hal yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, setiap hari seorang ibu rumah tangga selalu  menggunakan produk tersebut, sekarang banyak sekali produk sabun maupun  deterjen, dan kita harus pintar dalam memilih produk ini, apa lagi sabun kecantikan.

Dengan digunakannya sabun dan deterjen setiap hari, tanpa disadari kita telah membuat lingkungan kita tercemar, Pernahkah hal itu terpikir dibenak kita? Bayangkanlah, Beribu liter air sabun bekas cucian dibuang begitu saja, sehingga menimbulkan pemandangan yang tidak sedap dipandang mata, di sungai-sungai kecil buih sabun melimpah, di danau-danau kecil pertumbuhan eceng gondok bertambah, sehingga populasi ikanpun lambat laun berkurang. Apa yang harus kita lakukan?

Dengan banyaknya sungai dan danau yang tercemar, persediaan air bersihpun akan berkurang, sehingga banyak sekali orang yang kekurangan air bersih, baik untuk mencuci, ataupun untuk minum.

Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan memanfaatkan air bekas cucian itu. Sering kita lihat, para ibu menggunakan bekas cuciannya untuk menyirami tanaman, dan hal itu bisa menghilangkan serangga yang ada pada tanaman. Hal ini sangatlah bermanfaat sekali, selain dengan menghemat biaya, pencemaran lingkungan terutama pencemaran air dapat dikurangi, sehingga persediaan air bersih pun akan semakin banyak. Selain itu juga untuk menanggulangi masalah penggunaan sabun bisa dilakukan dengan cara mencari alternatif penggunaan sabun yang ramah lingkungan.

Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita tengok kebelakang. Pernahkah kita mendengar buah lerak, atau mungkin buah rarak? Diantara kita mungkin ada yang tahu dan ada yang tidak, Buah ini dibeberapa daerah berbeda penamaannya,  misalnya didaerah sunda (rerek) dan di Jawa Tengah (lerak), sedangkan kata ilmiah dari buah itu adalah sapindus rarak DC. Pohon dari buah ini kualitasnya sama dengan pohon jati, sehingga tanaman ini keberadaannya terancam dengan banyaknya penebangan liar.

Dengan banyaknya masalah yang diakibatkan penggunaan sabun maka buah rarak ini bisa digunakan untuk mencuci. Mungkin kita heran mendengar hal ini, tapi menurut hasil penelitian, buah ini mengandung saponin. Zat ini merupakan salah satu zat yang terdapat pada sabun, dan ini membuktikan bahwa buah rarak bisa digunakan untuk mencuci. Dan zat ini pula yang menyebabkan kotoran bisa terlepas dari kain.  Selain mengandung saponin, buah rarak ini mengandung zat lain, yaitu alkaloida, polipenol dan tanin.

Sudah tak lazim lagi, setiap orang menginginkan barang yang murah dan kualitas bagus. Buah rarak ini, jika dihitung dari segi ekonomis, memang terbilang mahal dibandingkan dengan sabun dan deterjen yang ada dipasaran. Buah rarak sebanyak 200 gram harganya sekitar 14 ribu dan bisa digunakan sebanyak 6-10 kali mencuci, setiap kali mencuci sebanyak 3-6 kilogram cucian, sedangkan sabun dengan uang seribu juga sudah  dapat dibeli. Mahalnya harga buah rarak ini disebabkan karena buah ini jarang ditemukan.  Namun jika kita perhitungkan antara efek yang terjadi  dengan  uang yang dikeluarkan, hal itu tidak sebanding, karena kelestarian lingkungan lebih utama. Berapapun banyaknya uang kita, jika lingkugan kita kotor karena terjadinya pencemaran, kenyamanan tidak akan dapat dirasakan.

Dengan digunakannya buah rarak sebagai alternatif mencuci, pencemaran air akan berkurang, sehingga persediaan air bersihpun bertambah banyak. Pertumbuhan populasi ikan pun akan bertambah dengan berkurangnya populasi eceng gondok didanau.  Selain itu, kita juga bisa membantu untuk melestarikan buah ini, karena setelah buah ini digunakan untuk mencuci, bekasnya masih bisa ditanam kembali. Dengan semakin banyaknya orang yang menggunakan buah ini dan melestarikannya, maka paru-paru bumipun dapat diperbaiki, sehingga polusi udara akan berkurang. Selain itu, semakin bertambahnya populasi buah ini, persediaan kayu akan bertambah dan buah rarak yang didapat akan banyak sehingga harganya juga akan menurun.

Referensi :

Autobiografi

Laila Fitriah lahir di Garut tanggal 12 April 1990. Menempuh pendidikan ditempat kelahiran yaitu di  SDN Panyindangan 1 tahun 1996-2002, MTs Al-Ashdariyah tahun 2002-2005 dan SMAN 1 Garut tahun 2005-2008. Sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas pendidikan Indonesia Bandung semester 2. Pada tahun 2000 pernah meraih juara puisi tingkat kecamatan, tahun 2005 pemenang volly ball ke-3  antar SMP se-kabupaten Garut. selain itu, berbagai perlombaan yang pernah diikuti diantaranya Lomba Olimpiade Sains Nasional, lomba pesta Sains nasional dan perlombaan-perlombaan lain yang diselenggarakan beberapa Universitas. Aktivitas yang dijalani selain kuliah yaitu Pengurus Organisasi kampus dan mengajar privat.

Blog Stats

  • 27,102 hits

halaman

Pages

June 2009
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: