Artikel kimia B 2008 UPI's Blog

Ditta W. Utami (0808536)-Kapur Tulis Vs Boardmarker

Posted on: June 4, 2009

KAPUR TULIS VS BOARDMARKER

Sering batuk-batuk karena menulis dengan kapur tulis? Merasa lebih nyaman menggunakan spidol meski terkadang bau menyengat tercium? Tahukah Anda mana yang sebenarnya lebih aman digunakan?

Dulu, orang menulis di atas batu atau dedaunan dengan menggunakan peralatan seperti paku. Setelah manusia mengenal pengolahan berbagai macam bahan kimia, kapur dan papan tulis muncul sebagai substitusi. Dewasa ini, seiring perkembangan zaman, telah dikenal boardmarker atau spidol sebagai alat tulis untuk whiteboard. Kehadirannya lambat laun telah menggeser penggunakan kapur tulis. Tapi, pernahkah kita berpikir mengapa di era modern seperti sekarang ini orang Jepang justru masih bertahan dengan kapur tulisnya?

Kapur tulis adalah produk kimia yang dibuat dari kalsium karbonat, CaCO3. Dalam penggunaannya, debu kapur dapat beterbangan dan menyebabkan batuk, bersin, atau iritasi pada mata. Namun, berdasarkan penelitian, kapur tulis justru tidak membahayakan pernafasan kita.

Seperti yang dikutip dari website kingdom.blogspot.com, ”dari penelitian laboratorium ITB, kandungan kapur tulis tidak membahayakan pernafasan. Hanya mungkin butiran kapur tulis kadang menyebabkan sedikit rasa panas di kulit (untuk beberapa orang).”

Partikel kapur tulis masih termasuk berukuran besar, sehingga walaupun berterbangan di udara, ia akan tersaring oleh filter pertama yang ada pada tubuh manusia, yaitu hidung. Bulu-bulu di hidung dapat menahan partikel kapur tulis sehingga tidak masuk ke paru-paru. Karena tertahan oleh bulu hidung itulah kita jadi sering bersin jika berlama-lama menggunakan kapur tulis.

Berbeda dengan kapur, spidol yang beberapa diantaranya masih mengandung xylene (zat yang menimbulkan bau khas pada spidol) lebih berbahaya karena partikel yang dihasilkan jauh lebih kecil sehingga dapat masuk ke paru-paru dan mengendap. Hal ini tentu dapat menyebabkan penyakit.

Sungguh ironis jika mengingat bahwa gengsi orang Indonesia cukup tinggi. Yang penting keren dan beken, masalah lain bisa di-nomor-dua-kan. Yang penting dibilang modern, kesehatan jadi urusan belakangan. Begitu praktis dan mudahnya menggunakan spidol, hingga beberapa orang masih saja ada yang berkata, “hari gini masih pakai kapur tulis?!”.

Ada apa dengan orang Indonesia? Bukankah menggunakan kapur tulis jauh lebih aman? Apalagi sekarang sudah banyak kapur tulis yang berkualitas tinggi. Kini sudah ada kapur bebas debu, dimana debu dari kapur akan melekat dan jatuh pada papan tulis sehingga tidak beterbangan. Hal ini terjadi karena kapur tersebut memiliki bahan molekul yang lebih berat. Selain itu, sudah ada papan tulis yang dilengkapi dengan magnet yang dapat menarik debu kapur sehingga lebih aman bagi pengguna.

Nah, jika tahu yang lebih baik, akankah Anda tetap bertahan dengan segala kenyamanan yang ditawarkan spidol???

Referensi :

Autobiografi

Ditta Widya Utami adalah anak kedua dari pasangan Tia Makmur Setiana, S.Pd., dan Dastewi, S.Pd.. Beragama islam dan bertempat tinggal di Jl. Raya Cipeundeuy No. 151 RT 16/05 Des./Kec. Cipeundeuy Kab. Subang 41272. Jenjang pendidikan formal yang pernah dan sedang dijalani adalah sebagai berikut:

  1. TK Tunas Karya (1995-1996)
  2. SD N 1 Cipeundeuy (1996-2002)
  3. SMP N 1 Cipeundeuy (2002-2005)
  4. SMA N 1 Purwakarta (2005-2008)
  5. Jurusan Pendidikan Kimia, Universitas Pendidikan Indonesia (2008-sekarang)

Pengalaman organisasi:

  1. Anggota Pramuka (2000-2002)
  2. Sekretaris II OSIS SMP N 1 Cipeundeuy (2003-2004)
  3. Anggota Dewan Pasukan –Pramuka- (2003-2004)
  4. Ketua OSIS SMP N 1 Cipeundeuy (2004-2005)
  5. Sekretaris Dewan Pasukan –Pramuka- (2004-2005)
  6. Anggota KIR SMA N 1 Purwakarta (2005-2006)
  7. Staf Bidang Organisasi KOPMA BS Komisariat FPMIPA UPI (periode 2009-2010)
  8. Staf Bidang Kaderisasi HMK FPMIPA UPI (periode 2009-2010)
  9. Staf Bidang Administrasi BPP IKAHIMKI (periode 2008-2010).

6 Responses to "Ditta W. Utami (0808536)-Kapur Tulis Vs Boardmarker"

Saya guru SD yang terbiasa menulis(mrngajar) menggunakan papan tulis., tetapi sekarang sedang bebas tugas dinas karena melaksanakan tugas belajar di Jogjakarta. Dulu tiap hari saya menghirup debu kapur. Saya kadang2 batuk2 kecil kata dokter paru2 saya sehat tidak ada penyakit apapun seperti asma, alergi, apalagi TBC. Sekarang di tempat kuliah ruangan bersih tanpa debu kapur, dan sayapun tak lagi batuk. Mbak Ditta, menuliskan debu kapur tersaring oleh bulu hidung? iritasi kecil dan tidak berbahaya? Debu kapu itu dihirup oleh guru -murid setiap hari.Coba adakan penelitian studi korelasi antara kesehatan purna karya guru dan non guru! Tolong adakan penelitian untuk menemukan alat tulis yang aman bagi guru-murid.. Hasilnya tentu sangat brguna bagi dunia pendidikan OK???

KereN Bgt ..

Pantesan di gedung JICA FPMIPA UPI menggunakan kapur alat tulis.

Wah, terima kasih sekali untuk saran dan kritiknya, Pak…
sangat membangun dan memotivasi saya agar bisa berkarya dan belajar lebih baik dan lebih baik lagi…🙂

maaf baru terbaca…
alhamdulillah saya memiliki cukup kesibukan.

Mohon doanya saja, ya, Pak, agar saya bisa melakukan penelitian tersebut…🙂

Izin share artikelnya bu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 27,102 hits

halaman

Pages

June 2009
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: